Saturday, July 26, 2008

A Meeting with VILTA

Peter and I just visited and discussed with Ms. Heather Brown. She is VILTA's President. VILTA is Victorian Indonesian Language Teachers Association. It is an organisation which manages Indonesian language teachers. We think VILTA is a suitable organisation partner that will help us to develop the sister school relationships. We came to her school after school time and we talked about a few agenda. The agenda will hopefully boost the sister schools initiative between Victoria and Banten. We discussed the school partner for each prospective school and tried to see possibility of activities which are suitable for both schools. We also shared both schools potential. A primary school in Victoria is ready to make initial link with a primary school in Banten. So we provide address and details information about the school. In that meeting, we also prepared for the Banten Province Education Department to initiate a visit to Victoria which intents to motivate the sisterschool program. It was agreed that we should also notify the Department of Education and Training in Victoria. It was such a beneficial meeting, even though, we believe that each of us were tired of the daily routine and feel lack of time to do follo w up, but we committ to this works and hoping this will happen in the near future. The meeting took almost 2 hours and Peter and I are deeply in debt for Heather hospitality and kindness to host us. May this will become a good start to make a better understanding and tighter cooperation between Australia and Indonesia through education. (HS 2008)

Monday, February 4, 2008

KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATATAUFIQ ISMAIL


Artikel Taufik Ismail tentang Krismansyah Rahadi (chrisye)Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi(1949-2007) di majalah sastra HORISON.Krismansyah Rahadi (1949-2007):


Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuahacara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudahcoba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abangtolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, sayakatakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan.Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kasetlagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirikdiperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akandiisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Sayasuka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitujuga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujungminggu keempat tetap buntu.
Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya sayaakan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris,maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Sayapunya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi,A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim,wa tukallimunaaidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti.Maknanya, "Pada hariini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkatakepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telahmereka lakukan."
Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir iniluar biasa!Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegasmemindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya sayaragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas kedalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisanlirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan KakiBerkata.Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,"Chris, alhamdulillah selesai".
Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahupadanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannyabaru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi,berkali-kali.Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah,Chrisye ? Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Adakekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benarmencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat,lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, sayaberkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata sayamembanjir.
Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kagetmelihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiqmemberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan KakiBerkata.Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkanpada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba.Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq danmenceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dariSurat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuktenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya,orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkanYanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saatmencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali sayamenangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarahkarir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini.
Dilumpuhkanoleh lagu sendiri!Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. ErwinGutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belumdirekam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australiasudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia ,saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholatkhusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisamenyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang!Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggupmenyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu,itulah suarasaya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itusaja, rasanya ingin berlari!Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalamderetan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual didalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulahpengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkansaya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif danluarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Sayatidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap maknaPengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yangserupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalamkonser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya duabaris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangipenonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasuldalam lagu tersebut.
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkataselesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskantitipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Sayaenggan menerimanya.Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskanbahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan danKaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja.Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukanhak saya.Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa diamenghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. AkhirnyaChrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terimafee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atauberdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun' kan ?"Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga.Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisaditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima.Chrisye senang, saya pun senang.
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08,penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelahtiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat diSingapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadiumempat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty,Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 albumsolo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjidsetia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amalsalehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semogaterbuka lebar baginya. Amin.
#Ketika Tangan dan Kaki Berkata Lirik : Taufiq Ismail Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
1997